Sejarah internet Indonesia dimulai pada awal tahun
1990-an. Saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai
paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong
sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana
Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial
dan individual di sebagian aktivitasnya, terutama yang melibatkan perdagangan
Internet. Sejak 1988, ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan
CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet.
Pengertian Internet
Internet merupakan kepanjangan dari Interconnected
network. Jika diterjemahkan secara langsung berarti jaringan yang saling
terhubung. Jika didefinisikan secara lengkap, internet adalah kumpulan komputer
yang terhubung satu dengan yang lain dalam sebuah jaringan. Disebut jaringan
yang saling terhubung karena internet menghubungkan komputer dan
jaringan-jaringan komputer yang ada di seluruh dunia menjadi sebuah jaringan
komputer yang sangat besar.
Karena merupakan sebuah jaringan, maka sebuah komputer
yang terhubung ke internet berarti terhubung dengan semua komputer yang ada di
seluruh dunia yang juga terhubung ke internet. Semua komputer yang terhubung ke
internet dapat mengakses semua informasi yang terdapat di internet.
Internet merupakan sebuah dunia tanpa ada penguasa.
Artinya semua orang mempunyai hak yang sama di internet. Karena itu, internet
merupakan dunia yang bebas dimasuki tanpa harus terikat dengan
peraturan-peraturan negara tertentu dan tidak dibatasi dengan batas-batas
wilayah teritorial.
Ada dua peranan penting dari internet yaitu :
- Sebagai sumber data dan informasi
- Sarana pertukaran data dan informasi
Awal Internet Indonesia
Berdasarkan catatan whois ARIN dan APNIC, protokol Internet (IP) pertama dari
Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24) didaftarkan oleh Universitas Indonesia
pada 24 Juni 1988. RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby
Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, dan Onno W. Purbo merupakan
beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia di tahun
1992 hingga 1994. Masing-masing personal telah mengontribusikan keahlian dan
dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di
Indonesia.
Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat dilihat
di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "Jaringan
komputer biaya murah menggunakan radio" di bulan November 1990. Juga
beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahasiswa Elektro ITB di
tahun 1989.
Di sekitar tahun 1994 mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya.
IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia. Pada waktu itu pihak POSTEL
belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali
pengguna Internet di Indonesia. Sambungan awal ke Internet dilakukan
menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekat barangkali.
Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI, kebetulan ayah
Sanjaya adalah dosen UI. Akses awal di IndoNet mula-mula memakai mode teks
dengan shell account, browser lynx dan email client pine pada server AIX.
Mulai 1995 beberapa BBS di Indonesia seperti Clarissa menyediakan jasa akses
Telnet ke luar negeri. Dengan memakai remote browser Lynx di AS, maka pemakai
Internet di Indonesia bisa akses Internet (HTTP).
Perkembangan terakhir yang perlu diperhitungkan adalah trend ke arah e-commerce
dan warung internet yang satu & lainnya saling menunjang membuahkan
masyarakat Indonesia yang lebih solid di dunia informasi. Rekan-rekan
e-commerce membangun komunitasnya di beberapa mailing list utama seperti warta-e-commerce@egroups.com, mastel-e-commerce@egroups.com, e-commerce@itb.ac.id & i2bc@egroups.com.
Sejak 1988, CIX (Inggris) menawarkan jasa E-mail dan Newsgroup. Belakangan
menawarkan jasa akses HTTP dan FTP. Beberapa pengguna Internet memakai modem
1200 bps dan saluran telpon Internasional yang sangat mahal untuk mengakses
Internet. Sejak 1989 Compuserve (AS) juga menawarkan jasa E-mail dan belakangan
Newsgroup, HTTP/FTP. Beberapa pengguna Compuserve memakai modem yang
dihubungkan dengan Gateway Infonet yang terletak di Jakarta. Biaya akses
Compuserve masih mahal, tetapi jauh lebih murah dari CIX.
Pra-Sejarah Internet di Indonesia (1970-1993)
Ada dua hal yang
perlu diperhatikan, jika membahas seputar pra-sejarah Internet di Indonesia.
Pertama, populasi
komputer Indonesia yang sangat minim sekali seputar tahun 1970-1980an. Kedua,
istilah Internet baru menjadi populer pada tahun 1990an. Sebelumnya, nama dari
sebuah jaringan komputer berdasarkan siapa yang membiayainya atau siapa yang
menggunakannya. Umpamanya: apranet, BITnet, CSnet, NSFnet, UUSCPnet, dan
seterusnya.
Internet merupakan
media komunikasi yang populer di Indonesia sejak akhir tahun 1990. Perkembangan
jaringan internet di Indonesia dimulai pertengahan era 1990, namun sejarah
perkembangannya dapat diikuti sejak era 1970-an.
Pada awal
perkembangannya, internet dimulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat
non-komersial, seperti kegiatan-kegiatan berbasis hobby dan dalam perkembangan
selanjutnya kebanyakan diprakarsai oleh kelompok akademis / mahasiswa dan
ilmuwan yang sebagian (pernah) terlibat dengan kegiatan berbasis hobby
tersebut, melalui upaya membangun infrastruktur telekomunikasi internet.
Peranan Pemerintah
Indonesia dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak
banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, walaupun peranan mereka tidak
terlalu signifikan.
Kejadian Penting Tentang sejarah perkembangan internet di dunia
dan di indonesia :
Tahun
|
Kejadian
|
Uni Soviet (sekarang Rusia)
meluncurkan wahana
luar angkasa, Sputnik.
|
|
Sebagai buntut dari
"kekalahan" Amerika Serikat dalam meluncurkan wahana luar angkasa,
dibentuklah sebuah badan di dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Advanced Research Projects Agency (ARPA), yang bertujuan
agar Amerika Serikat mampu meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi negara
tersebut. Salah satu sasarannya adalah teknologikomputer.
|
|
J.C.R. Licklider menulis sebuah tulisan mengenai sebuah visi di mana
komputer-komputer dapat saling dihubungkan antara satu dengan lainnya secara
global agar setiap komputer tersebut mampu menawarkan akses terhadap program
dan juga data. Pada tahun ini juga RAND Corporation memulai riset terhadap ide ini
(jaringan komputer terdistribusi), yang ditujukan untuk tujuan militer.
|
|
Awal 1960-an
|
Teori mengenai packet-switching dapat diimplementasikan dalam dunia nyata.
|
Pertengahan 1960-an
|
ARPA mengembangkan ARPANET untuk
mempromosikan "Cooperative Networking of Time-sharing Computers",
dengan hanya empat buah host komputer yang dapat dihubungkan hingga tahun 1969, yakni Stanford Research Institute, University of California, Los Angeles, University of California, Santa Barbara,
dan University of Utah.
|
Istilah "Hypertext" dikeluarkan oleh Ted Nelson.
|
|
Jaringan Tymnet dibuat.
|
|
Anggota jaringan ARPANET bertambah
menjadi 23 buah node komputer, yang terdiri atas komputer-komputer untuk
riset milik pemerintah Amerika Serikat dan universitas.
|
|
Sebuah kelompok kerja yang disebut
dengan International Network Working Group (INWG) dibuat untuk meningkatkan teknologi jaringan
komputer dan juga membuat standar-standar untuk jaringan komputer, termasuk
di antaranya adalah Internet. Pembicara pertama dari organisasi ini adalah Vint Cerf, yang kemudian disebut sebagai
"Bapak Internet"
|
|
Beberapa layanan basis data komersial
seperti Dialog, SDC Orbit, Lexis, The New York Times DataBank, dan lainnya,
mendaftarkan dirinya ke ARPANET melalui jaringan dial-up.
|
|
ARPANET ke luar Amerika Serikat: pada
tahun ini, anggota ARPANET bertambah lagi dengan masuknya beberapa
universitas di luar Amerika Serikat yakni University College of London dariInggris dan Royal Radar Establishment di Norwegia.
|
|
Vint Cerf dan Bob Kahn mempublikasikan spesifikasi detail protokol Transmission
Control Protocol (TCP) dalam artikel "A Protocol for Packet Network
Interconnection".
|
|
Bolt, Beranet & Newman (BBN), pontraktor
untuk ARPANET, membuka sebuah versi komersial dari ARPANET yang mereka sebut
sebagai Telenet, yang merupakan layanan paket data publik pertama.
|
|
Sudah ada 111 buah komputer yang telah
terhubung ke ARPANET.
|
|
Protokol TCP dipecah menjadi dua bagian,
yakni Transmission
Control Protocol dan Internet
Protocol (TCP/IP)
|
|
Grup diskusi Usenet pertama dibuat oleh Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, alumni dari Duke University dan University
of North Carolina Amerika Serikat.
Setelah itu, penggunaan Usenet pun meningkat secara drastis.
Pada tahun ini pula, emoticon diusulkan oleh Kevin McKenzie. |
|
Awal 1980-an
|
Komputer pribadi (PC) mewabah, dan
menjadi bagian dari banyak hidup manusia.
Tahun ini tercatat ARPANET telah memiliki anggota hingga 213 host yang terhubung. Layanan BITNET (Because It's Time Network) dimulai, dengan menyediakan layanan e-mail, mailing list, dan juga File Transfer Protocol (FTP). CSNET (Computer Science Network) pun dibangun pada tahun ini oleh para ilmuwan dan pakar pada bidang ilmu komputer dari Purdue University, University of Washington, RAND Corporation, dan BBN, dengan dukungan dari National Science Foundation (NSF). Jaringan ini menyediakan layanan e-mail dan beberapa layanan lainnya kepada para ilmuwan tersebut tanpa harus mengakses ARPANET. |
1982
|
Istilah "Internet"
pertama kali digunakan, dan TCP/IP diadopsi sebagai protokol universal untuk
jaringan tersebut.
Name server mulai dikembangkan, sehingga mengizinkan para pengguna agar dapat terhubung kepada sebuah host tanpa harus mengetahui jalur pasti menuju host tersebut. Tahun ini tercatat ada lebih dari 1000 buah host yang tergabung ke Internet. |
1986
|
Diperkenalkan sistem nama domain, yang
sekarang dikenal dengan DNS (Domain Name System) yang berfungsi untuk
menyeragamkan sistem pemberian nama alamat di jaringan komputer.
|
Hobby Radio Amatir
Sejarah internet
Indonesia dapat ditelusuri dari berbagai kegiatan sejumlah masyarakat,
khususnya dalam bidang telekomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut lebih
merupakan kegiatan berbasis hobby atau yang bersifat amatir, tanpa ada tujuan
komersil. Kegiatan-kegiatan tersebut berhubungan dengan penggunaan radio
telekomunikasi yang kemudian memunculkan suatu komunitas penggemar komunikasi
radio, dikenal sebagai Amatir Radio yang tergabung di Organisasi Radio Amatir
Indonesia (ORARI). Komunitas ini tidak hanya sekedar menggunakan radio sebagai
alat komunikasi saja tapi juga pada upaya meningkatkan kemampuan teknis dalam
membuat alat komunikasi / radio panggil. Booming radio amatir ini dimulai era
tahun 1970-an, dengan penggemar dari berbagai tingkatan usia, namun terutama di
kalangan remaja dan orang dewasa (usia 15-30 tahun).
Dari komunitas ini
pula kemudian dikenal komunikasi radio antar penduduk menggunakan frekuensi
Citizen Band (CB). CB sebenarnya tidak terkait langsung dengan perkembangan
infrasturktur telekomunikasi, karena lebih merupakan pengembangan hobby
berkomunikasi dengan sesama orang yang menggemari komunikasi antar-radio yang
dilakukan sebagian anggota masyarakat, sebagai alternative penggunaan telepon.
Pada masa itu,
telepon sudah merupakan alat komunikasi yang umum, namun keharusan untuk
membayar biaya sambungan telepon merupakan hal yang cukup berat, terutama bagi
remaja/dewasa muda yang belum memiliki penghasilan tetap. Kemudian, mulailah
mereka menggunakan radio panggil / CB, yang bisa dipakai mengobrol berjam-jam
tanpa khawatir biaya telepon membengkak. Biaya yang diperlukan untuk
‘membangun’ radio panggil dan pemancarnya pun relative tidak terlalu mahal.
Komunikasi dengan
radio panggil pada saat itu masih menggunakan teknologi Analog dengan frekuensi
AM, dan masih dilakukan dengan sesama pengguna/penggemar radio amatir yang
berada dalam range/jarak tertentu yang mampu dicapai gelombang radio. Secara
bertahap, sejumlah orang dengan hobby radio panggil ini mulai mengutik-utik radio
mereka sehingga dapat mencapai range frekuensi yang lebih jauh, sehingga mereka
bisa terhubung dengan sesama pengguna radio panggil yang ada di tempat yang
lebih jauh. Ketika kemudian pengguna radio panggil mulai banyak, mereka
akhirnya membentuk komunitas yang dikenal dengan ORARI
Radio Paket (Packet
Radio) pertama diperkenalkan oleh seorang anggota senior ORARI, Robby Soebiakto
YB1BG, pada tahun 1987. Dengan menggabungkan teknologi paket radio dengan
computer, pemakai computer dapat mengirimkan data teks menggunakan gelombang
radio. Dengan menggunakan dua stasiun radio amatir milik ORARI di Jakarta,
pengguna radio amatir mendirikan BBS radio paket amatir. Cara ini membantu
mengembangkan komunikasi data dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua
arah. Kemudian pada awal tahun 1990-an, teknologi paket radio amatir mulai
mempergunakan modem telepon, dan dalam perkembangan selanjutnya membentuk
jaringan Radio Paket Amatir yang dikenal sebagai AMPRNet (Amateur Packet Radio
Network), yang pada akhirnya mengarahkan komunitas penggunanya pada internet.
Salah satunya dengan upaya yang dilakukan kelompok akademisi dan mahasiswa ITB,
Amatir Radio Club (ARC) ITB dan Computer Network Research Group (CNRG) ITB,
dengan mensosialisasikan penggunaan radio paket sebagai sarana sambungan dengan
internet yang terhitung murah, khususnya bagi lembaga-lembaga (pendidikan).
Dari orang-orang
inilah muncul sejumlah tokoh yang kemudian memiliki peran penting dalam
pengembangan teknologi telekomunikasi, hingga munculnya Internet di Indonesia.
Telepon BBS
Selain Radio Amatir
dan Radio Paket Amatir, ada pula teknologi yang dikenal dengan Buletin Board
System (BBS) berbasis FidoNET. Teknologi ini pertama kali dibawa ke Indonesia
awal tahun 1980-an oleh Jim Filgo saat bekerja di Kedutaan Amerika.
BBS merupakan
jaringan e-mail store and forward yang mengaitkan banyak ‘server’ BBS amatir
radio di seluruh dunia agar e-mail dapat dikirim dan terima dengan lancar. BBS
hanya menyediakan data dalam bentuk gambar-gambar atau informasi tertulis.
Untuk perangkat keras/hardware-nya sendiri, BBS merupakan perangkat computer
yang dilengkapi dengan modem dan sambungan kabel telepon. Jika ada beberapa BBS
yang saling terhubung, maka kita sudah dapat mengakses komputer (BBS) lain.
Sambungan antar BBS dilakukan melalui saluran telepon, dan karenanya pengguna
BBS umumnya merupakan kaum ‘elit’ / ekonomi menengah-atas karena sambungan
melalui saluran telepon terhitung mahal. (Lim, 2005)
Setelah pensiun,
Jim Filgo menjadi konsultan berbagai instansi seperti Badan Koordinasi Keluarga
Berencana (BKKBN). Di sana ia berteman dengan C C Yan, seorang pengusaha lokal
di Jakarta, dan keduanya kemudian memperkenalkan teknologi BBS kepada komunitas
peminat komputer di Jakarta. Salah satu ‘anggota’ komunitas tersebut adalah
Michael Sunggiardi, partner C C Yan di sebuah toko komputer, Computeria di Ratu
Plaza Jakarta, yang memiliki minat besar terhadap komputer dan bahkan memiliki
usaha komputer di Bogor. Michael Sunggiardi kemudian membawa dan memperkenalkan
teknologi tersebut ke Bogor.
Komunitas Penggemar
Komputer
Akhir tahun 1981,
Michael Sunggiardi memulai bisnis komputernya di Bogor. Awalnya ia hanya
menjalankan bisnisnya tanpa niat yang serius. Dimulai dari hobby mengutak-atik
barang elektronik, ia kemudian mempelajari teknik audio, televisi, video tape
recorder (yang pada era 80-an merupakan alat hiburan yang cukup popular) hingga
Compact Disc Player (CD Player), sehingga ia memiliki keterampilan teknis dalam
bidang elektronika, dan kemudian mulai mengajar di sejumlah kursus computer dan
kursus elektronik di Jakarta, sambil menyambi bisnis dan kuliahnya.
Ketika mulai merasa
jenuh dengan kegiatannya tersebut, ia mulai beralih pada komputer, karena ia
merasa bahwa teknis elektronika computer memiliki lebih banyak tantangan.
Ketika itu ia mulai membantu beberapa gerai computer di Harco, Glodok Plaza
Jakarta. Masa itu belum banyak orang paham apa itu komputer atau bagaimana
mengoperasikannya. Ia mempelajari teknis computer dan kemudian menularkan
ilmunya itu kepada beberapa rekanan sesama pedagang di harco dan juga pada
kursus-kursus computer. Ia bahkan sempat mengajari beberapa orang yang sekarang
ini menjadi icon-nya bisnis computer di Indonesia di kursus-kursus, antara lain
di Columbia Computer, CPU Computer, UPS Pascal. Mulai dari aplikasi program
Lotus, Wordstar, yang menurutnya akan terpakai bagi orang-orang bisnis. Peserta
kursusnya ketika itu tidak terbatas pada anak-anak muda saja, namun sebagian
justru orang-orang yang sudah berusia 40-an.
Tahun 1982 Michael
mendirikan perusahaan PT Batutulis Graha Komputronika bersama 3 orang temannya
di Jakarta dan Bogor. Mula-mula ia meletakkan komputer di toko buku milik
ayahnya di Bogor, dan hal itu ternyata menarik perhatian sejumlah pelanggan.
Karena para karyawan tidak paham mengenai computer, mereka mengundang
penanya-penanya tadi untuk kembali hari Sabtu dan mendapatkan penjelasan dari
Michael mengenai komputer dan cara pengoperasiannya. Hal ini berlanjut sampai
tahun 1984-1985, ketika ia mulai memiliki staff yang membantunya menerangkan
dan mengajari tentang computer.
Bisnis komputer ini
berkembang setelah ia memiliki klien ekspatriat asal Australia yang bekerja di
Balai Penelitian Veterinary di Tapos, dekat Ciawi. Selanjutnya ia mulai
memiliki banyak klien ekspatriat, antara lain dari Amerika dan Jepang, yang
bekerja di perusahaan di sekitar Bogor dan Jakarta. Pada awalnya mereka datang
untuk membeli komputer, tapi kemudian mereka banyak bertanya tentang
pengoperasian dan perangkat lunak, dan Michael pun mengajak para ekspatriat
tersebut untuk mempelajari komputer dan mengajarkan sejumlah program dan
perangkat lunak, antara lain Graphic Design dengan Desktop Publishing, Ventura
Publisher. Ketika itu ia masih memanfaatkan toko buku milik ayahnya di
Suryakencana, daerah Chinatown di Bogor, dimulai dari satu bagian toko buku
hingga akhirnya ia menggunakan lantai dua untuk bagian penjualan dan pelayanan
computer.
Tahun 1986-an,
Michael berangkat ke Amerika dan kemudian memperoleh sertifikasi di Ventura
Publisher users di Santa Barbara sehingga dikenal sebagai one of the first
Asian yang memiliki sertifikasi. Pada tahun yang sama, Michael mendirikan
computer club/klub komputer Pangkalan PC yang ketika itu anggotanya mencapai
2.000 orang. Salah satunya adalah Izak Jeni, orang Indonesia yang membuat VoIP
Free World Dial Up bersama Jeff Parvour di New York. Antara tahun 1995-1997
Izak mengubah program untuk soundcard menjadi VoIP (Voice over Internet
Protocol), sehingga ia bisa berbicara (langsung) di komputer dengan ayahnya,
almarhum Aldi Jeni di Jepang.
Ketika itu klub
komputer yang didirikan Michael sering berkumpul di gedung Gramedia di Jakarta,
karena saat itu Michael cukup aktif membantu kawan dekatnya Kosasih
Iskandarsyah yang bekerja di Elexmedia, dan di Gramedia Pustaka Utama, divisi
penerbitan Gramedia, Michael memberikan training sehingga staff Gramedia tidak
hanya menggunakan komputer untuk sekedar mengetik saja, tapi juga untuk
men-set-up desain dan layout media cetaknya dengan Ventura Publisher. Ia terus
bekerja membantu Gramedia hingga tahun 1990-an.
Kegiatannya di
Computer Club sendiri dilakukan dengan resources yang terbatas, namun ia cukup
banyak melakukan inovasi, misalnya dengan membeli software original di Amerika,
kemudian ia mengutak-atik #####-nya sehingga software tersebut bisa dicopy, dan
kemudian dijadikan bahan presentasi di Klub dan di distribusikan ke seluruh
toko komputer di Indonesia, bekerja sama dengan prosuden disket SKC dari Korea.
Kegiatan klub
tersebut berjalan sampai tahun 1990. Saat yang bersamaan, pada tahun 1987,
Michael juga membuka Klub yang sama di Bogor, sebagai cabang klub di Jakarta
sekaligus untuk menopang bisnis komputernya disana. Menurutnya, klub tersebut
bisa membantu edukasi dan market bisnisnya, karena dengan awareness klien,
penggunaan komputer akan jauh lebih besar dan luas.
Berbagai upaya
tersebut telah melahirkan suatu jaringan komputer di Bogor, dengan
memperkenalkan teknologi computer dan aplikasinya. Walaupun pada awalnya
perkembangan itu dilakukan melalui upaya bisnis computer, namun ia menambahkan
unsur edukasi dan pengenalan computer melalui kegiatannya mengajar kursus
computer dan mendirikan klub computer di Jakarta dan Bogor.
Peran Orang Indonesia di Luar Negeri
Perkembangan
infrastruktur internet pertama di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh aktifitas
mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri pada era tahun 80-an. Ketika
itu, salah satu fasilitas komunikasi yang dapat diakses mahasiswa di sejumlah
universitas di luar negeri adalah koneksi internet. Mereka memanfaatkan
fasilitas tersebut untuk dapat saling terhubung satu sama lain, dimulai dengan
membentuk suatu komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas
Pada era Orde Baru
ketika rezim Soeharto berkuasa, banyak isu/topic pembicaraan bernuansa
social-politik yang dianggap “tabu”, terlarang untuk dibicarakan, terutama bila
menyangkut masalah politik dan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan).
Mahasiswa sebagai salah satu kaum intelektual sempat mengalami berbagai bentuk
pencekalan terhadap kegiatan-kegiatan maupun wacana yang berhubungan dengan
isu/topic yang “tabu” itu. Keingintahuan mereka mengenai kondisi di Indonesia
ternyata terpenuhi dengan dibentuknya sejumlah mailing list oleh mahasiswa
Indonesia di luar negeri. Memang, pada mulanya mailing list tersebut tidak
dibuat sebagai ajang diskusi urusan social-politik Indonesia, namun lebih
sebagai sarana berkomunikasi antar mahasiswa ‘perantauan’, untuk saling
bertukar informasi seputar kegiatan mereka di masing-masing sekolah/universitas
dan mengenai berbagai kabar dari tanah air. Namun kemudian, permasalahan
social-politik Indonesia pun tidak luput dari topic pembicaraan/diskusi mereka.
Mereka merasa lebih ‘aman’ untuk membicarakan suatu permasalahan yang
menyangkut urusan social-politik nasional, karena pada saat itu mereka hanya
saling terhubung satu-sama lain dengan mahasiswa Indonesia yang juga kuliah di
luar negeri, sehingga tidak ada ‘pengawasan’ dari pemerintah.
Pada akhirnya,
terbentuklah komunitas-komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri. Dimulai dengan dibentuknya mailing
list Janus Garuda Indonesia (Janus) dengan alamat e-mailindonesians@janus.berkeley.edu pada
tahun 1987, oleh Eka Ginting, yang ketika itu sedang kuliah di University of
Seattle, Amerika Serikat. Ginting memanfaatkan server yang ada di University of
California ~ Berkeley. (Lim, 2005) Diskusi yang dilakukan dalam milis ini
mula-mula bersifat saling tukar informasi dan kemudian baru menyangkut berbagai
isu seputar masalah social-politik yang terjadi di tanah air. Diskusi kemudian
mulai membahas seputar isu SARA sehingga terjadi perpecahan diantara peserta
milis, khususnya kelompok-kelompok mahasiswa Indonesia yang beragama Islam dan
Kristen. Perpecahan ini kemudian berujung pada terbentuknya sejumlah mailing
list kecil berbasis agama (Islam dan Kristen), seperti is-lam@isnet.org,dialog@isnet.org (berisi diskusi tentang Islam, muslim dan
non-muslim) dan paroki@paroki.org (untuk
umat Katolik Indonesia), iccn@dbs.informatik.uni-muenchen.de (Indonesian
Christian Computer Network).
Hingga tahun 1989,
belum ada lagi mailing list yang dibentuk mahasiswa Indonesia, dan barulah
kemudian, pada tahun 1989 dibentuklah UK-NET oleh mahasiswa Indonesia yang
berkuliah di Inggris, disusul dengan INDOZNET – Indonesia-Australia-Network,
yang dibentuk mahasiswa Indonesia di Australia, dan kemudian terbentuk pula
Isnet (the Islamic Network), milis yang ditujukan terutama bagi mahasiswa
Muslim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat. (Lim, 2005)
Ketika kemudian
mereka kembali ke Indonesia, mereka tetap merasakan perlunya koneksi internet
untuk membantu komunikasi dan pertukaran informasi / data, namun kala itu
perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki infrastruktur yang memadai bagi
akses internet. Baru beberapa perguruan tinggi yang mencoba membangun jaringan
komunikasi / network local kampus, dan itupun masih menggunakan radio paket
link, dengan kecepatan akses yang sangat lambat. Diantara perguruan-perguruan
tinggi tersebut adalah ITB, UI, dan UGM.
Maka kemudian,
sejumlah mahasiswa/akademisi yang baru kembali dari studi di luar negeri tersebut
mulai melakukan berbagai penelitian dan kemudian berupaya membangun jaringan
komunikasi (data), mula-mula di kampus mereka masing-masing, dan pada akhirnya,
mereka akan mencoba menyambungkan jaringan local kampus tersebut dengan kampus
lain, lembaga-lembaga pemerintah, dan pada akhirnya dengan jaringan internet
global. Perkembangan tersebut akan diceritakan di bagian lain dari tulisan ini.
Jaringan
IntraNet Awal
Jaringan IntraNet di kampus-kampus merupakan kunci awal perkembangan Internet
di Indonesia. Sebelum ada sambungan ke internet sudah ada jaringan komputer di
lingkungan terbatas yang dikenal sebagai Local Area Network (LAN) di sejumlah
lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah di Indonesia.
Pada era 1980 sampai menjelang pertengahan tahun 1990an, di kalangan pendidikan
tinggi (universitas) dengan para stake holders yang terdiri dari para
akademisi, mahasiswa, dan ilmuwan telah timbul inisiatif untuk mengembangkan
berbagai kegiatan seputar teknologi computer dan radio yang semula hanya
merupakan hobby, kegiatan amatir, maupun bagian dari proses pendidikan mereka
di perguruan tinggi menjadi suatu media telekomunikasi yang akan memudahkan
pertukaran data dan informasi, tidak hanya dalam lingkungan kampus/lembaga-nya
saja, namun mereka pun telah memiliki imajinasi bahkan keinginan untuk
mengembangkan suatu jaringan/network antar kampus dan bahkan antar negara.
Hal tersebut dimulai dengan berbagai penelitian di lembaga-lembaga pendidikan
dan lembaga pemerintah dengan bidang kerja yang berhubungan dengan teknologi,
telekomunikasi khususnya komputer dan networkingnya, ditambah dengan adanya
transfer of technology dari sejumlah akademisi selepas studi ataupun penelitian
mereka di luar negeri, dimana teknologi jaringan computer sudah mulai
berkembang.
AWAL MULA WARNET DI INDONESIA
Mungkin tidak jelas
siapa penyelenggara WARNET pertama kali di Indonesia. Tampaknya aktifitas
pembuatan WARNET mulai sekitar tahun 1996-1998. Wasantara dari PT. POS
Indonesia dan POINTER yang merupakan spin-off dari CNRG ITG merupakan
segelintir pionir WARNET di Indonesia. POINTER bahkan sempat berexperimen
dengan VW Combi untuk WARNET keliling.
Warung Internet
adalah sebuah kata yang berkembang diantara para aktifis Internet Indonesia di
tahun 1997-1998 untuk sebuah kios yang memiliki banyak komputer untuk di
sewakan bagi pengakses Internet. Pada masa itu, secara tidak sadar terjadi
perebutan singkatan dari Warung Interne antara WARIN dan WARNET. Seharusnya
jika kita konsisten dengan proses menyingkat kata, seperti WARTEG (Warung
Tegal) dan WARTEL (Warung Telekomunikasi), maka yang seharusnya di pilih adalah
WARIN.
Karena Internet,
.NET, menjadi akhiran yang sangat menarik dalam jaringan Internet, maka
kebanyakan rekan-rekan di masa itu lebih memilih istilah WARNET daripada WARIN.
Oleh karena itu tidak heran hingga saat ini WARNET diadopsi oleh masyarakat
Indonesia.
Manfaat internet
Apa manfaat dari Internet yang bisa kita
dapatkan?,Secara umum ada banyak manfaat yang dapat diperoleh apabila seseorang
mempunyai akses ke Internet.Berikut ini sebagian dari apa yang tersedia di
internet:
1.Informasi untuk kehidupan pribadi :
kesehatan,rekreasi,hobby,pengembangan pribadi,rohani,sosial.
2.Informasi untuk kehidupan profesional
atau pekerja :
sains,teknologi,perdagangan, saham,komoditas,berita
bisnis,asosiasi profesi,asosiasi bisnis,berbagai forum komunikasi.
Satu hal yang paling menarik ialah
keanggotaan internet tidak mengenal batas negara, ras, kelas ekonomi,ideologi
atau faktor faktor lain yang biasanya dapat menghambat pertukaran pikiran.
Internet adalah suatu komunitas dunia yang
sifatnya sangat demokratis serta memiliki kode etik yang dihormati segenap
anggotanya.Manfaat internet terutama diperoleh melalui kerjasama antar pribadi
atau kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu.Untuk lebih meningkatkan
kualitas sumber daya manusia di Indonesia,sudah waktunya para profesional
Indonesia memanfaatkan jaringan internet dan menjadi bagian dari masyarakat
informasi dunia.
Sejarah internet Masuk ke Indonesia -
Sekilas Sejarah internet Masuk ke Indonesia ini,yang mana dimulai pada awal
tahun 1990-an.Saat itu jaringan internet yang ada di Indonesia lebih dikenal
sebagai Paguyuban Network,dimana semangat kerjasama,kekeluargaan dan gotong
royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya atau Pengguna
Internetnya.Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya
kemudian yang terasa lebih komersial dan individual pada sebagian
aktivitasnya,terutama yang melibatkan dengan perdagangan Internet.Sejak tahun
1988,ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris)
dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet.
Demikian artikel tentang SEJARAH INTERNET
yang dapat saya buat.
Jika ad salah kata dan salah penulisannya
saya minta maaf. Dan bila ad kekuranganyya mohon di komet ya. ^_^
SUMBER
:
Wikedia &
Blogger
.jpg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar