WELCOME TO MY BLOG

Kamis, 13 Maret 2014

AWAL MULA DAN SEJARAH INTERNET DI INDONESIA

Awal Mula Internet di Indonesia


Sejarah internet Indonesia dimulai pada awal tahun 1990-an. Saat itu jaringan internet di Indonesia lebih dikenal sebagai paguyuban network, dimana semangat kerjasama, kekeluargaan & gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya. Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial dan individual di sebagian aktivitasnya, terutama yang melibatkan perdagangan Internet. Sejak 1988, ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet.


Pengertian Internet
Internet merupakan kepanjangan dari Interconnected network. Jika diterjemahkan secara langsung berarti jaringan yang saling terhubung. Jika didefinisikan secara lengkap, internet adalah kumpulan komputer yang terhubung satu dengan yang lain dalam sebuah jaringan. Disebut jaringan yang saling terhubung karena internet menghubungkan komputer dan jaringan-jaringan komputer yang ada di seluruh dunia menjadi sebuah jaringan komputer yang sangat besar.
Karena merupakan sebuah jaringan, maka sebuah komputer yang terhubung ke internet berarti terhubung dengan semua komputer yang ada di seluruh dunia yang juga terhubung ke internet. Semua komputer yang terhubung ke internet dapat mengakses semua informasi yang terdapat di internet.
Internet merupakan sebuah dunia tanpa ada penguasa. Artinya semua orang mempunyai hak yang sama di internet. Karena itu, internet merupakan dunia yang bebas dimasuki tanpa harus terikat dengan peraturan-peraturan negara tertentu dan tidak dibatasi dengan batas-batas wilayah teritorial.
Ada dua peranan penting dari internet yaitu :
- Sebagai sumber data dan informasi
- Sarana pertukaran data dan informasi



Awal Internet Indonesia


Berdasarkan catatan whois ARIN dan APNIC, protokol Internet (IP) pertama dari Indonesia, UI-NETLAB (192.41.206/24) didaftarkan oleh Universitas Indonesia pada 24 Juni 1988. RMS Ibrahim, Suryono Adisoemarta, Muhammad Ihsan, Robby Soebiakto, Putu, Firman Siregar, Adi Indrayanto, dan Onno W. Purbo merupakan beberapa nama-nama legendaris di awal pembangunan Internet Indonesia di tahun 1992 hingga 1994. Masing-masing personal telah mengontribusikan keahlian dan dedikasinya dalam membangun cuplikan-cuplikan sejarah jaringan komputer di Indonesia.



Tulisan-tulisan tentang keberadaan jaringan Internet di Indonesia dapat dilihat di beberapa artikel di media cetak seperti KOMPAS berjudul "Jaringan komputer biaya murah menggunakan radio" di bulan November 1990. Juga beberapa artikel pendek di Majalah Elektron Himpunan Mahasiswa Elektro ITB di tahun 1989.



Di sekitar tahun 1994 mulai beroperasi IndoNet yang dipimpin oleh Sanjaya. IndoNet merupakan ISP komersial pertama Indonesia. Pada waktu itu pihak POSTEL belum mengetahui tentang celah-celah bisnis Internet & masih sedikit sekali pengguna Internet di Indonesia. Sambungan awal ke Internet dilakukan menggunakan dial-up oleh IndoNet, sebuah langkah yang cukup nekat barangkali. Lokasi IndoNet masih di daerah Rawamangun di kompleks dosen UI, kebetulan ayah Sanjaya adalah dosen UI. Akses awal di IndoNet mula-mula memakai mode teks dengan shell account, browser lynx dan email client pine pada server AIX.



Mulai 1995 beberapa BBS di Indonesia seperti Clarissa menyediakan jasa akses Telnet ke luar negeri. Dengan memakai remote browser Lynx di AS, maka pemakai Internet di Indonesia bisa akses Internet (HTTP).



Perkembangan terakhir yang perlu diperhitungkan adalah trend ke arah e-commerce dan warung internet yang satu & lainnya saling menunjang membuahkan masyarakat Indonesia yang lebih solid di dunia informasi. Rekan-rekan e-commerce membangun komunitasnya di beberapa mailing list utama seperti warta-e-commerce@egroups.commastel-e-commerce@egroups.come-commerce@itb.ac.id & i2bc@egroups.com.



Sejak 1988, CIX (Inggris) menawarkan jasa E-mail dan Newsgroup. Belakangan menawarkan jasa akses HTTP dan FTP. Beberapa pengguna Internet memakai modem 1200 bps dan saluran telpon Internasional yang sangat mahal untuk mengakses Internet. Sejak 1989 Compuserve (AS) juga menawarkan jasa E-mail dan belakangan Newsgroup, HTTP/FTP. Beberapa pengguna Compuserve memakai modem yang dihubungkan dengan Gateway Infonet yang terletak di Jakarta. Biaya akses Compuserve masih mahal, tetapi jauh lebih murah dari CIX.
Pra-Sejarah Internet di Indonesia (1970-1993)


Ada dua hal yang perlu diperhatikan, jika membahas seputar pra-sejarah Internet di Indonesia.



Pertama, populasi komputer Indonesia yang sangat minim sekali seputar tahun 1970-1980an. Kedua, istilah Internet baru menjadi populer pada tahun 1990an. Sebelumnya, nama dari sebuah jaringan komputer berdasarkan siapa yang membiayainya atau siapa yang menggunakannya. Umpamanya: apranet, BITnet, CSnet, NSFnet, UUSCPnet, dan seterusnya.


Internet merupakan media komunikasi yang populer di Indonesia sejak akhir tahun 1990. Perkembangan jaringan internet di Indonesia dimulai pertengahan era 1990, namun sejarah perkembangannya dapat diikuti sejak era 1970-an.



Pada awal perkembangannya, internet dimulai dari kegiatan-kegiatan yang bersifat non-komersial, seperti kegiatan-kegiatan berbasis hobby dan dalam perkembangan selanjutnya kebanyakan diprakarsai oleh kelompok akademis / mahasiswa dan ilmuwan yang sebagian (pernah) terlibat dengan kegiatan berbasis hobby tersebut, melalui upaya membangun infrastruktur telekomunikasi internet.



Peranan Pemerintah Indonesia dalam perkembangan jaringan internet di Indonesia memang tidak banyak, namun juga tidak dapat dikesampingkan, walaupun peranan mereka tidak terlalu signifikan.



Kejadian Penting Tentang sejarah perkembangan internet di dunia dan di indonesia :
Tahun
Kejadian
Uni Soviet (sekarang Rusia) meluncurkan wahana luar angkasa, Sputnik.
Sebagai buntut dari "kekalahan" Amerika Serikat dalam meluncurkan wahana luar angkasa, dibentuklah sebuah badan di dalam Departemen Pertahanan Amerika Serikat, Advanced Research Projects Agency (ARPA), yang bertujuan agar Amerika Serikat mampu meningkatkan ilmu pengetahuan dan teknologi negara tersebut. Salah satu sasarannya adalah teknologikomputer.
J.C.R. Licklider menulis sebuah tulisan mengenai sebuah visi di mana komputer-komputer dapat saling dihubungkan antara satu dengan lainnya secara global agar setiap komputer tersebut mampu menawarkan akses terhadap program dan juga data. Pada tahun ini juga RAND Corporation memulai riset terhadap ide ini (jaringan komputer terdistribusi), yang ditujukan untuk tujuan militer.
Awal 1960-an
Teori mengenai packet-switching dapat diimplementasikan dalam dunia nyata.
Pertengahan 1960-an
ARPA mengembangkan ARPANET untuk mempromosikan "Cooperative Networking of Time-sharing Computers", dengan hanya empat buah host komputer yang dapat dihubungkan hingga tahun 1969, yakni Stanford Research Institute, University of California, Los Angeles, University of California, Santa Barbara, dan University of Utah.
Istilah "Hypertext" dikeluarkan oleh Ted Nelson.
Jaringan Tymnet dibuat.
Anggota jaringan ARPANET bertambah menjadi 23 buah node komputer, yang terdiri atas komputer-komputer untuk riset milik pemerintah Amerika Serikat dan universitas.
Sebuah kelompok kerja yang disebut dengan International Network Working Group (INWG) dibuat untuk meningkatkan teknologi jaringan komputer dan juga membuat standar-standar untuk jaringan komputer, termasuk di antaranya adalah Internet. Pembicara pertama dari organisasi ini adalah Vint Cerf, yang kemudian disebut sebagai "Bapak Internet"
Beberapa layanan basis data komersial seperti Dialog, SDC Orbit, Lexis, The New York Times DataBank, dan lainnya, mendaftarkan dirinya ke ARPANET melalui jaringan dial-up.
ARPANET ke luar Amerika Serikat: pada tahun ini, anggota ARPANET bertambah lagi dengan masuknya beberapa universitas di luar Amerika Serikat yakni University College of London dariInggris dan Royal Radar Establishment di Norwegia.
Vint Cerf dan Bob Kahn mempublikasikan spesifikasi detail protokol Transmission Control Protocol (TCP) dalam artikel "A Protocol for Packet Network Interconnection".
Bolt, Beranet & Newman (BBN), pontraktor untuk ARPANET, membuka sebuah versi komersial dari ARPANET yang mereka sebut sebagai Telenet, yang merupakan layanan paket data publik pertama.
Sudah ada 111 buah komputer yang telah terhubung ke ARPANET.
Protokol TCP dipecah menjadi dua bagian, yakni Transmission Control Protocol dan Internet Protocol (TCP/IP)
Grup diskusi Usenet pertama dibuat oleh Tom Truscott, Jim Ellis dan Steve Bellovin, alumni dari Duke University dan University of North Carolina Amerika Serikat. Setelah itu, penggunaan Usenet pun meningkat secara drastis.
Pada tahun ini pula,
 emoticon diusulkan oleh Kevin McKenzie.
Awal 1980-an
Komputer pribadi (PC) mewabah, dan menjadi bagian dari banyak hidup manusia.
Tahun ini tercatat ARPANET telah memiliki anggota hingga 213
 host yang terhubung.
Layanan
 BITNET (Because It's Time Network) dimulai, dengan menyediakan layanan e-mail, mailing list, dan juga File Transfer Protocol (FTP).
CSNET (Computer Science Network) pun dibangun pada tahun ini oleh para ilmuwan dan pakar pada bidang ilmu komputer dari
 Purdue University, University of Washington, RAND Corporation, dan BBN, dengan dukungan dari National Science Foundation (NSF). Jaringan ini menyediakan layanan e-mail dan beberapa layanan lainnya kepada para ilmuwan tersebut tanpa harus mengakses ARPANET.
1982
Istilah "Internet" pertama kali digunakan, dan TCP/IP diadopsi sebagai protokol universal untuk jaringan tersebut.
Name server
 mulai dikembangkan, sehingga mengizinkan para pengguna agar dapat terhubung kepada sebuah host tanpa harus mengetahui jalur pasti menuju host tersebut.
Tahun ini tercatat ada lebih dari 1000 buah
 host yang tergabung ke Internet.
1986
Diperkenalkan sistem nama domain, yang sekarang dikenal dengan DNS (Domain Name System) yang berfungsi untuk menyeragamkan sistem pemberian nama alamat di jaringan komputer.



Hobby Radio Amatir


Sejarah internet Indonesia dapat ditelusuri dari berbagai kegiatan sejumlah masyarakat, khususnya dalam bidang telekomunikasi. Kegiatan-kegiatan tersebut lebih merupakan kegiatan berbasis hobby atau yang bersifat amatir, tanpa ada tujuan komersil. Kegiatan-kegiatan tersebut berhubungan dengan penggunaan radio telekomunikasi yang kemudian memunculkan suatu komunitas penggemar komunikasi radio, dikenal sebagai Amatir Radio yang tergabung di Organisasi Radio Amatir Indonesia (ORARI). Komunitas ini tidak hanya sekedar menggunakan radio sebagai alat komunikasi saja tapi juga pada upaya meningkatkan kemampuan teknis dalam membuat alat komunikasi / radio panggil. Booming radio amatir ini dimulai era tahun 1970-an, dengan penggemar dari berbagai tingkatan usia, namun terutama di kalangan remaja dan orang dewasa (usia 15-30 tahun).



Dari komunitas ini pula kemudian dikenal komunikasi radio antar penduduk menggunakan frekuensi Citizen Band (CB). CB sebenarnya tidak terkait langsung dengan perkembangan infrasturktur telekomunikasi, karena lebih merupakan pengembangan hobby berkomunikasi dengan sesama orang yang menggemari komunikasi antar-radio yang dilakukan sebagian anggota masyarakat, sebagai alternative penggunaan telepon.



Pada masa itu, telepon sudah merupakan alat komunikasi yang umum, namun keharusan untuk membayar biaya sambungan telepon merupakan hal yang cukup berat, terutama bagi remaja/dewasa muda yang belum memiliki penghasilan tetap. Kemudian, mulailah mereka menggunakan radio panggil / CB, yang bisa dipakai mengobrol berjam-jam tanpa khawatir biaya telepon membengkak. Biaya yang diperlukan untuk ‘membangun’ radio panggil dan pemancarnya pun relative tidak terlalu mahal.



Komunikasi dengan radio panggil pada saat itu masih menggunakan teknologi Analog dengan frekuensi AM, dan masih dilakukan dengan sesama pengguna/penggemar radio amatir yang berada dalam range/jarak tertentu yang mampu dicapai gelombang radio. Secara bertahap, sejumlah orang dengan hobby radio panggil ini mulai mengutik-utik radio mereka sehingga dapat mencapai range frekuensi yang lebih jauh, sehingga mereka bisa terhubung dengan sesama pengguna radio panggil yang ada di tempat yang lebih jauh. Ketika kemudian pengguna radio panggil mulai banyak, mereka akhirnya membentuk komunitas yang dikenal dengan ORARI



Radio Paket (Packet Radio) pertama diperkenalkan oleh seorang anggota senior ORARI, Robby Soebiakto YB1BG, pada tahun 1987. Dengan menggabungkan teknologi paket radio dengan computer, pemakai computer dapat mengirimkan data teks menggunakan gelombang radio. Dengan menggunakan dua stasiun radio amatir milik ORARI di Jakarta, pengguna radio amatir mendirikan BBS radio paket amatir. Cara ini membantu mengembangkan komunikasi data dari komunikasi satu arah menjadi komunikasi dua arah. Kemudian pada awal tahun 1990-an, teknologi paket radio amatir mulai mempergunakan modem telepon, dan dalam perkembangan selanjutnya membentuk jaringan Radio Paket Amatir yang dikenal sebagai AMPRNet (Amateur Packet Radio Network), yang pada akhirnya mengarahkan komunitas penggunanya pada internet. Salah satunya dengan upaya yang dilakukan kelompok akademisi dan mahasiswa ITB, Amatir Radio Club (ARC) ITB dan Computer Network Research Group (CNRG) ITB, dengan mensosialisasikan penggunaan radio paket sebagai sarana sambungan dengan internet yang terhitung murah, khususnya bagi lembaga-lembaga (pendidikan).



Dari orang-orang inilah muncul sejumlah tokoh yang kemudian memiliki peran penting dalam pengembangan teknologi telekomunikasi, hingga munculnya Internet di Indonesia.


Telepon BBS


Selain Radio Amatir dan Radio Paket Amatir, ada pula teknologi yang dikenal dengan Buletin Board System (BBS) berbasis FidoNET. Teknologi ini pertama kali dibawa ke Indonesia awal tahun 1980-an oleh Jim Filgo saat bekerja di Kedutaan Amerika.



BBS merupakan jaringan e-mail store and forward yang mengaitkan banyak ‘server’ BBS amatir radio di seluruh dunia agar e-mail dapat dikirim dan terima dengan lancar. BBS hanya menyediakan data dalam bentuk gambar-gambar atau informasi tertulis. Untuk perangkat keras/hardware-nya sendiri, BBS merupakan perangkat computer yang dilengkapi dengan modem dan sambungan kabel telepon. Jika ada beberapa BBS yang saling terhubung, maka kita sudah dapat mengakses komputer (BBS) lain. Sambungan antar BBS dilakukan melalui saluran telepon, dan karenanya pengguna BBS umumnya merupakan kaum ‘elit’ / ekonomi menengah-atas karena sambungan melalui saluran telepon terhitung mahal. (Lim, 2005)


Setelah pensiun, Jim Filgo menjadi konsultan berbagai instansi seperti Badan Koordinasi Keluarga Berencana (BKKBN). Di sana ia berteman dengan C C Yan, seorang pengusaha lokal di Jakarta, dan keduanya kemudian memperkenalkan teknologi BBS kepada komunitas peminat komputer di Jakarta. Salah satu ‘anggota’ komunitas tersebut adalah Michael Sunggiardi, partner C C Yan di sebuah toko komputer, Computeria di Ratu Plaza Jakarta, yang memiliki minat besar terhadap komputer dan bahkan memiliki usaha komputer di Bogor. Michael Sunggiardi kemudian membawa dan memperkenalkan teknologi tersebut ke Bogor.




Komunitas Penggemar Komputer


Akhir tahun 1981, Michael Sunggiardi memulai bisnis komputernya di Bogor. Awalnya ia hanya menjalankan bisnisnya tanpa niat yang serius. Dimulai dari hobby mengutak-atik barang elektronik, ia kemudian mempelajari teknik audio, televisi, video tape recorder (yang pada era 80-an merupakan alat hiburan yang cukup popular) hingga Compact Disc Player (CD Player), sehingga ia memiliki keterampilan teknis dalam bidang elektronika, dan kemudian mulai mengajar di sejumlah kursus computer dan kursus elektronik di Jakarta, sambil menyambi bisnis dan kuliahnya.



Ketika mulai merasa jenuh dengan kegiatannya tersebut, ia mulai beralih pada komputer, karena ia merasa bahwa teknis elektronika computer memiliki lebih banyak tantangan. Ketika itu ia mulai membantu beberapa gerai computer di Harco, Glodok Plaza Jakarta. Masa itu belum banyak orang paham apa itu komputer atau bagaimana mengoperasikannya. Ia mempelajari teknis computer dan kemudian menularkan ilmunya itu kepada beberapa rekanan sesama pedagang di harco dan juga pada kursus-kursus computer. Ia bahkan sempat mengajari beberapa orang yang sekarang ini menjadi icon-nya bisnis computer di Indonesia di kursus-kursus, antara lain di Columbia Computer, CPU Computer, UPS Pascal. Mulai dari aplikasi program Lotus, Wordstar, yang menurutnya akan terpakai bagi orang-orang bisnis. Peserta kursusnya ketika itu tidak terbatas pada anak-anak muda saja, namun sebagian justru orang-orang yang sudah berusia 40-an.



Tahun 1982 Michael mendirikan perusahaan PT Batutulis Graha Komputronika bersama 3 orang temannya di Jakarta dan Bogor. Mula-mula ia meletakkan komputer di toko buku milik ayahnya di Bogor, dan hal itu ternyata menarik perhatian sejumlah pelanggan. Karena para karyawan tidak paham mengenai computer, mereka mengundang penanya-penanya tadi untuk kembali hari Sabtu dan mendapatkan penjelasan dari Michael mengenai komputer dan cara pengoperasiannya. Hal ini berlanjut sampai tahun 1984-1985, ketika ia mulai memiliki staff yang membantunya menerangkan dan mengajari tentang computer.



Bisnis komputer ini berkembang setelah ia memiliki klien ekspatriat asal Australia yang bekerja di Balai Penelitian Veterinary di Tapos, dekat Ciawi. Selanjutnya ia mulai memiliki banyak klien ekspatriat, antara lain dari Amerika dan Jepang, yang bekerja di perusahaan di sekitar Bogor dan Jakarta. Pada awalnya mereka datang untuk membeli komputer, tapi kemudian mereka banyak bertanya tentang pengoperasian dan perangkat lunak, dan Michael pun mengajak para ekspatriat tersebut untuk mempelajari komputer dan mengajarkan sejumlah program dan perangkat lunak, antara lain Graphic Design dengan Desktop Publishing, Ventura Publisher. Ketika itu ia masih memanfaatkan toko buku milik ayahnya di Suryakencana, daerah Chinatown di Bogor, dimulai dari satu bagian toko buku hingga akhirnya ia menggunakan lantai dua untuk bagian penjualan dan pelayanan computer.



Tahun 1986-an, Michael berangkat ke Amerika dan kemudian memperoleh sertifikasi di Ventura Publisher users di Santa Barbara sehingga dikenal sebagai one of the first Asian yang memiliki sertifikasi. Pada tahun yang sama, Michael mendirikan computer club/klub komputer Pangkalan PC yang ketika itu anggotanya mencapai 2.000 orang. Salah satunya adalah Izak Jeni, orang Indonesia yang membuat VoIP Free World Dial Up bersama Jeff Parvour di New York. Antara tahun 1995-1997 Izak mengubah program untuk soundcard menjadi VoIP (Voice over Internet Protocol), sehingga ia bisa berbicara (langsung) di komputer dengan ayahnya, almarhum Aldi Jeni di Jepang.



Ketika itu klub komputer yang didirikan Michael sering berkumpul di gedung Gramedia di Jakarta, karena saat itu Michael cukup aktif membantu kawan dekatnya Kosasih Iskandarsyah yang bekerja di Elexmedia, dan di Gramedia Pustaka Utama, divisi penerbitan Gramedia, Michael memberikan training sehingga staff Gramedia tidak hanya menggunakan komputer untuk sekedar mengetik saja, tapi juga untuk men-set-up desain dan layout media cetaknya dengan Ventura Publisher. Ia terus bekerja membantu Gramedia hingga tahun 1990-an.



Kegiatannya di Computer Club sendiri dilakukan dengan resources yang terbatas, namun ia cukup banyak melakukan inovasi, misalnya dengan membeli software original di Amerika, kemudian ia mengutak-atik #####-nya sehingga software tersebut bisa dicopy, dan kemudian dijadikan bahan presentasi di Klub dan di distribusikan ke seluruh toko komputer di Indonesia, bekerja sama dengan prosuden disket SKC dari Korea.



Kegiatan klub tersebut berjalan sampai tahun 1990. Saat yang bersamaan, pada tahun 1987, Michael juga membuka Klub yang sama di Bogor, sebagai cabang klub di Jakarta sekaligus untuk menopang bisnis komputernya disana. Menurutnya, klub tersebut bisa membantu edukasi dan market bisnisnya, karena dengan awareness klien, penggunaan komputer akan jauh lebih besar dan luas.



Berbagai upaya tersebut telah melahirkan suatu jaringan komputer di Bogor, dengan memperkenalkan teknologi computer dan aplikasinya. Walaupun pada awalnya perkembangan itu dilakukan melalui upaya bisnis computer, namun ia menambahkan unsur edukasi dan pengenalan computer melalui kegiatannya mengajar kursus computer dan mendirikan klub computer di Jakarta dan Bogor.



Peran Orang Indonesia di Luar Negeri


Perkembangan infrastruktur internet pertama di Indonesia juga banyak dipengaruhi oleh aktifitas mahasiswa Indonesia yang belajar di luar negeri pada era tahun 80-an. Ketika itu, salah satu fasilitas komunikasi yang dapat diakses mahasiswa di sejumlah universitas di luar negeri adalah koneksi internet. Mereka memanfaatkan fasilitas tersebut untuk dapat saling terhubung satu sama lain, dimulai dengan membentuk suatu komunitas mahasiswa Indonesia yang belajar di universitas



Pada era Orde Baru ketika rezim Soeharto berkuasa, banyak isu/topic pembicaraan bernuansa social-politik yang dianggap “tabu”, terlarang untuk dibicarakan, terutama bila menyangkut masalah politik dan SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan). Mahasiswa sebagai salah satu kaum intelektual sempat mengalami berbagai bentuk pencekalan terhadap kegiatan-kegiatan maupun wacana yang berhubungan dengan isu/topic yang “tabu” itu. Keingintahuan mereka mengenai kondisi di Indonesia ternyata terpenuhi dengan dibentuknya sejumlah mailing list oleh mahasiswa Indonesia di luar negeri. Memang, pada mulanya mailing list tersebut tidak dibuat sebagai ajang diskusi urusan social-politik Indonesia, namun lebih sebagai sarana berkomunikasi antar mahasiswa ‘perantauan’, untuk saling bertukar informasi seputar kegiatan mereka di masing-masing sekolah/universitas dan mengenai berbagai kabar dari tanah air. Namun kemudian, permasalahan social-politik Indonesia pun tidak luput dari topic pembicaraan/diskusi mereka. Mereka merasa lebih ‘aman’ untuk membicarakan suatu permasalahan yang menyangkut urusan social-politik nasional, karena pada saat itu mereka hanya saling terhubung satu-sama lain dengan mahasiswa Indonesia yang juga kuliah di luar negeri, sehingga tidak ada ‘pengawasan’ dari pemerintah.



Pada akhirnya, terbentuklah komunitas-komunitas mahasiswa Indonesia di luar negeri. Dimulai dengan dibentuknya mailing list Janus Garuda Indonesia (Janus) dengan alamat e-mailindonesians@janus.berkeley.edu pada tahun 1987, oleh Eka Ginting, yang ketika itu sedang kuliah di University of Seattle, Amerika Serikat. Ginting memanfaatkan server yang ada di University of California ~ Berkeley. (Lim, 2005) Diskusi yang dilakukan dalam milis ini mula-mula bersifat saling tukar informasi dan kemudian baru menyangkut berbagai isu seputar masalah social-politik yang terjadi di tanah air. Diskusi kemudian mulai membahas seputar isu SARA sehingga terjadi perpecahan diantara peserta milis, khususnya kelompok-kelompok mahasiswa Indonesia yang beragama Islam dan Kristen. Perpecahan ini kemudian berujung pada terbentuknya sejumlah mailing list kecil berbasis agama (Islam dan Kristen), seperti is-lam@isnet.org,dialog@isnet.org (berisi diskusi tentang Islam, muslim dan non-muslim) dan paroki@paroki.org (untuk umat Katolik Indonesia), iccn@dbs.informatik.uni-muenchen.de (Indonesian Christian Computer Network).


Hingga tahun 1989, belum ada lagi mailing list yang dibentuk mahasiswa Indonesia, dan barulah kemudian, pada tahun 1989 dibentuklah UK-NET oleh mahasiswa Indonesia yang berkuliah di Inggris, disusul dengan INDOZNET – Indonesia-Australia-Network, yang dibentuk mahasiswa Indonesia di Australia, dan kemudian terbentuk pula Isnet (the Islamic Network), milis yang ditujukan terutama bagi mahasiswa Muslim Indonesia yang berkuliah di Amerika Serikat. (Lim, 2005)



Ketika kemudian mereka kembali ke Indonesia, mereka tetap merasakan perlunya koneksi internet untuk membantu komunikasi dan pertukaran informasi / data, namun kala itu perguruan tinggi di Indonesia belum memiliki infrastruktur yang memadai bagi akses internet. Baru beberapa perguruan tinggi yang mencoba membangun jaringan komunikasi / network local kampus, dan itupun masih menggunakan radio paket link, dengan kecepatan akses yang sangat lambat. Diantara perguruan-perguruan tinggi tersebut adalah ITB, UI, dan UGM.



Maka kemudian, sejumlah mahasiswa/akademisi yang baru kembali dari studi di luar negeri tersebut mulai melakukan berbagai penelitian dan kemudian berupaya membangun jaringan komunikasi (data), mula-mula di kampus mereka masing-masing, dan pada akhirnya, mereka akan mencoba menyambungkan jaringan local kampus tersebut dengan kampus lain, lembaga-lembaga pemerintah, dan pada akhirnya dengan jaringan internet global. Perkembangan tersebut akan diceritakan di bagian lain dari tulisan ini.



Jaringan IntraNet Awal


Jaringan IntraNet di kampus-kampus merupakan kunci awal perkembangan Internet di Indonesia. Sebelum ada sambungan ke internet sudah ada jaringan komputer di lingkungan terbatas yang dikenal sebagai Local Area Network (LAN) di sejumlah lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah di Indonesia.



Pada era 1980 sampai menjelang pertengahan tahun 1990an, di kalangan pendidikan tinggi (universitas) dengan para stake holders yang terdiri dari para akademisi, mahasiswa, dan ilmuwan telah timbul inisiatif untuk mengembangkan berbagai kegiatan seputar teknologi computer dan radio yang semula hanya merupakan hobby, kegiatan amatir, maupun bagian dari proses pendidikan mereka di perguruan tinggi menjadi suatu media telekomunikasi yang akan memudahkan pertukaran data dan informasi, tidak hanya dalam lingkungan kampus/lembaga-nya saja, namun mereka pun telah memiliki imajinasi bahkan keinginan untuk mengembangkan suatu jaringan/network antar kampus dan bahkan antar negara.



Hal tersebut dimulai dengan berbagai penelitian di lembaga-lembaga pendidikan dan lembaga pemerintah dengan bidang kerja yang berhubungan dengan teknologi, telekomunikasi khususnya komputer dan networkingnya, ditambah dengan adanya transfer of technology dari sejumlah akademisi selepas studi ataupun penelitian mereka di luar negeri, dimana teknologi jaringan computer sudah mulai berkembang.


AWAL MULA WARNET DI INDONESIA


Mungkin tidak jelas siapa penyelenggara WARNET pertama kali di Indonesia. Tampaknya aktifitas pembuatan WARNET mulai sekitar tahun 1996-1998. Wasantara dari PT. POS Indonesia dan POINTER yang merupakan spin-off dari CNRG ITG merupakan segelintir pionir WARNET di Indonesia. POINTER bahkan sempat berexperimen dengan VW Combi untuk WARNET keliling.



Warung Internet adalah sebuah kata yang berkembang diantara para aktifis Internet Indonesia di tahun 1997-1998 untuk sebuah kios yang memiliki banyak komputer untuk di sewakan bagi pengakses Internet. Pada masa itu, secara tidak sadar terjadi perebutan singkatan dari Warung Interne antara WARIN dan WARNET. Seharusnya jika kita konsisten dengan proses menyingkat kata, seperti WARTEG (Warung Tegal) dan WARTEL (Warung Telekomunikasi), maka yang seharusnya di pilih adalah WARIN.



Karena Internet, .NET, menjadi akhiran yang sangat menarik dalam jaringan Internet, maka kebanyakan rekan-rekan di masa itu lebih memilih istilah WARNET daripada WARIN. Oleh karena itu tidak heran hingga saat ini WARNET diadopsi oleh masyarakat Indonesia.



Manfaat internet

Apa manfaat dari Internet yang bisa kita dapatkan?,Secara umum ada banyak manfaat yang dapat diperoleh apabila seseorang mempunyai akses ke Internet.Berikut ini sebagian dari apa yang tersedia di internet:
1.Informasi untuk kehidupan pribadi :
   kesehatan,rekreasi,hobby,pengembangan pribadi,rohani,sosial. 
2.Informasi untuk kehidupan profesional atau pekerja :
 sains,teknologi,perdagangan, saham,komoditas,berita bisnis,asosiasi              profesi,asosiasi bisnis,berbagai forum komunikasi.


Satu hal yang paling menarik ialah keanggotaan internet tidak mengenal batas negara, ras, kelas ekonomi,ideologi atau faktor faktor lain yang biasanya dapat menghambat pertukaran pikiran.

Internet adalah suatu komunitas dunia yang sifatnya sangat demokratis serta memiliki kode etik yang dihormati segenap anggotanya.Manfaat internet terutama diperoleh melalui kerjasama antar pribadi atau kelompok tanpa mengenal batas jarak dan waktu.Untuk lebih meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia,sudah waktunya para profesional Indonesia memanfaatkan jaringan internet dan menjadi bagian dari masyarakat informasi dunia.

Sejarah internet Masuk ke Indonesia - Sekilas Sejarah internet Masuk ke Indonesia ini,yang mana dimulai pada awal tahun 1990-an.Saat itu jaringan internet yang ada di Indonesia lebih dikenal sebagai Paguyuban Network,dimana semangat kerjasama,kekeluargaan dan gotong royong sangat hangat dan terasa diantara para pelakunya atau Pengguna Internetnya.Agak berbeda dengan suasana Internet Indonesia pada perkembangannya kemudian yang terasa lebih komersial dan individual pada sebagian aktivitasnya,terutama yang melibatkan dengan perdagangan Internet.Sejak tahun 1988,ada pengguna awal Internet di Indonesia yang memanfaatkan CIX (Inggris) dan Compuserve (AS) untuk mengakses internet.

Demikian artikel tentang SEJARAH INTERNET yang dapat saya buat.
Jika ad salah kata dan salah penulisannya saya minta maaf. Dan bila ad kekuranganyya mohon di komet ya. ^_^


SUMBER :



Wikedia & Blogger

Tidak ada komentar:

Posting Komentar